Incinews.net
Rabu, 02 Februari 2022, 15.55 WIB
Last Updated 2022-02-02T07:55:30Z

Lima Kecamatan Di Kabupaten Bima, Ditetapkan Sebagai Sentra Komoditi Vanili.

 

 
Foto saat rapat penetapan lima kecamatan sentra komoditi vanili
oleh pemerintah kabupaten Bima.

Incinews.net. kab.Bima. Rapat yang dipandu Kepala Bidang Perencanaan Ekonomi Bappeda kabupaten Bima Ashadi SKM, M.Kes, telah ditetapkan lima kecamatan yang secara teknis cocok bagi budidaya komiditi tersebut yaitu Kecamatan Wawo, Parado,  Donggo, Lambitu dan Tambora. Selain penetapan lokasi pengembangan vanili dengan melakukan survey lokasi juga dilakukan pembentukan tim kecil dan menyiapkan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Sabtu, 1/2/2022. 


Hal tersebut ditetapkan dalam rangka menindak lanjuti hasil pertemuan sebelumnya  dengan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat Heru Saptaji dan rombongan yang secara khusus membahas sinergi program pengembangan komoditi pertanian unggulan di Kabupaten Bima.

"Poin-poin hasil rapat teknis tersebut akan segera ditindaklanjuti dan harapannya pengembangan budidaya vanili bisa menjadi salah satu potensi komoditi andalan di Kabupaten Bima". Terang Ashadi pada Rapat yang dihadiri Kadis Pertanian dan Perkebunan Ir. Hj. Nurma, M.Si, Kepala Bappeda Suwandi, ST, MT, Kadis Ketahanan Pangan Ir. Muhammad Natsir, dan para Kabid lingkup Dinas Pertanian dan Bappeda serta Dinas Koperasi dan UMKM kabupaten Bima.  

Pada pertemuan sebelumnya, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat Heru Saptaji dan rombongan yang secara khusus membahas sinergi program pengembangan komoditi pertanian unggulan di Kabupaten Bima, dan upaya dalam mendorong tumbuh kembangnya kegiatan ekonomi dan pengembangan UMKM.  Menindal lanjuti pertemuan tersebut, Kemudian Pemerintah kabupaten Bima menindak lanjutinya dengan  menggelar Rapat Teknis (31/1/2022)  di ruang rapat Bappeda Kabupaten Bima.

" Berdasarkan data yang ada,  komoditi pertanian vanili di  Provinsi NTB khususnya Kabupaten Bima termasuk memiliki kualitas  terbaik di dunia dengan nilai tambah ekonomi sangat tinggi. Dimana peluang eksport masih cukup terbuka  karena  saat ini baru 7 persen yang dimanfaatkan, sedangkan 93 persen belum bisa dipenuhi"  Ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia NTB Heru Saptaji. ( Asa)